Rumah Adat Joglo Beserta Gambar & Penjelasannya

Nyero.ID – Joglo merupakan rumah tradisional Jawa yang sangat populer, karena identik dengan nilai-nilai luhur warisan nenek moyang. Dengan kata lain, Joglo bukan hanya berfungsi sebagai tempat tinggal saja. Lebih dari itu, Joglo menyimpan banyak makna filosofi di dalamnya.

Joglo juga menjadi simbol status sosial seseorang, karena pada zaman dulu jenis rumah ini hanya dimiliki oleh kalangan bangsawan atau priyayi saja. Proses pembangunannya yang cukup rumit dengan biaya yang tidak sedikit hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki banyak uang. Adapun untuk kalangan masyarakat biasa umumnya menggunakan bentuk srotongan atau trojongan.

Rumah tradisional dengan bentuk unik ini menjadi simbol dari berbagai makna kehidupan sehingga desainnya pun tidak sembarangan. Ada banyak perhitungan yang harus dilakukan sebelum memulai pembangunan rumah joglo.

Salah satunya adalah dengan memperhatikan arah mata angin. Masyarakat Jawa sangat mementingkan penyelarasan hidup dengan kekuatan alam semesta, harapannya rumah bisa menjadi tempat yang paling nyaman dan harmonis untuk menjalani kehidupan.

Rumah joglo memiliki bentuk atap yang khas dengan dua bidang yaitu segitiga dan trapesium. Berdasarkan jenis atapnya, rumah joglo dibedakan menjadi Joglo Lambang Sari dan Joglo Lambang Gantung. Untuk jenis joglo lambang sari karakteristik atapnya disambung dengan serambi, sementara pada joglo lambang gantung terdapat celah yang berfungsi untuk memudahkan sirkulasi udara dan pencahayaan di dalam rumah.

Bagian atap pada rumah joglo yang sangat dominan dengan ukuran yang cukup besar menjadi simbol bahwa dalam tradisi Jawa masyarakatnya senantiasa mengutamakan akal budi dan pikirannya. Sehingga diharapkan bisa menghadapi kehidupan dan mempersiapkan diri dengan baik untuk kehidupan selanjutnya.

Ciri khas lain dari rumah joglo adalah keberadaan tiang penyangga yang umumnya berjumlah 16 buah dengan masing-masing fungsi yang berbeda. Untuk empat tiang penyangga utama dikenal dengan sebutan soko guru. Tiang utama pada rumah joglo ini berfungsi sebagai penopang blandar tumpangsari. Sedangkan tiang penyangga setelahnya disebut dengan soko rowo, dan yang terluar di sebut dengan soko emper.

Soko guru yang berjumlah empat menjadi simbol dari kekuatan empat arah mata angin, dimana menurut konsep spiritual masyarakat Jawa manusia berada di tengah perpotongan keempat arah mata angin tersebut. Titik perpotongan tersebut dalam istilah Jawa dikenal sengan sebutan Pancer atau Manunggaling Kiblat Papat.

Pada bagian pondasi atau bebatur rumah joglo terbuat dari tanah yang ditinggikan dan dipadatkan atau dikenal dengan sitilah dibrug. Sementara tiang didirikan di atas umpak yang terbuat dari batu alam dengan bentuk bulat, pesegi empat atau persegi delapan.

Pada awalnya joglo hanya memiliki empat tiang di bagian tengah, namun kemudian diberikan tambahan tiang pada bagian samping dan lainnya sehingga jumlah tiangnya sesuai dengan kebutuhan.

Struktur rumah joglo juga dikenal tahan gempa. Hal ini dikarenakan rangka utama seperti umpak, soko guru, dan tumpangsari pada bangunan rumah ini mampu menahan beban yang bergerak horizontal ketika gempa terjadi.

Struktur bangunan yang didominasi dengan bahan kayu juga mampu meredam getaran akibat gempa. Selain itu, kolom rumah yang bertumpu pada sendi dan rol dimana sambungan saling mengunci pada bangunan rumah cukup efektif untuk menjaga bangunan tetap stabil saat terjadi gempa.

Rumah Joglo juga dilengkapi dengan beberapa hiasan atau ornamen ukiran dengan motif-motif tertentu yang memiliki makna khusus. Pada rumah joglo di Yogyakarta biasanya motif yang banyak digunakan adalah alam, flora, dan fauna.

Pada bagian umpak atau alas soko guru biasanya berupa ukiran bunga sedang mekar yang dikenal dengan istilah padma, yaitu bunga teratai merah. Bunga ini menjadi lambang kesucian dan kekuatan sehingga diharapkan tidak mudah digoyahkan oleh segala bentuk bencana.

Sementara ukiran pada kayu biasanya menggunakan motif lung-lungan, yaitu berupa batang tumbuhan merambat yang masih muda. Ukiran ini memiliki makna ketenangan dan ketenteraman. Ragam hias saton dan tlacapan pada rumah joglo merupakan dua hal yang menyatu dan tak terpisahkan. Hiasan ini memiliki makna persatuan dan kesatuan.

Ragam hias mega mendhung menjadi lambang dua sisi yang berbeda dalam kehidupan. Dengan simbol ini diharapkan manusia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk sebagai landasan untuk menjalani kehidupan.

Sedangkan pada motif nanasan yang berbentuk buah nanas penuh duri menjadi simbol kekuatan, bahwa untuk mencapai sesuatu yang diinginkan harus mampu mengatasi segala rintangan yang datang.

Adapun ragam hiasan berbentuk gunungan melambangkan alam semesta dengan puncak yang disimbolkan sebagai keagungan dan keesaan. Sementara bagian kayon atau pohonnya menjadi lambang ketentraman dan tempat berlindung. Harapannya keluarga yang menempati rumah joglo senantiasa mendapatkan ketentraman dan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Bagian soko guru dan tumpangsari pada rumah joglo dianggap sebagai eleman yang sangat penting. Biasanya pada bagian ini terdapat banyak ornamen ukiran dengan motif tertentu. Ada anggapan bahwa semakin banyak dan indah ukiran yang ada pada rumah joglo maka hal itu juga menjadi simbol status sosial pemiliknya.

Rumah Joglo terdiri dari beberapa jenis sesuai dengan bentuk atap dan jumlah tiang penyangga. Diantaranya adalah Joglo Sinom, Joglo Jompongan, Joglo Pangrawit, Joglo Mangkurat, Joglo Hageng, Joglo Semar Tinandhu, Joglo Hageng, Joglo Ceblokan, Joglo Kepuhan Limolasan, Joglo Kepuhan Awitan, Joglo Wantah Apitan, Joglo Kepuhan Lawakan, dll.

Rumah Joglo terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu:

Pendopo, yang terletak di depan rumah dengan konsep ruangan terbuka sebagai simbol adanya sikap keramahan dan keterbukaan kepada tamu yang datang. Ruangan ini juga sering digunakan sebagai tempat untuk menyelenggarakan acara besar, pertunjukan kesenian, maupun pertemuan keluarga.

Pringgitan, yang terletak diantara pendopo dan omah njero dan berfungsi sebagai penghubung kedua ruangan tersebut. Ruangan ini juga sering digunakan untuk menerima tamu. Untuk membatasi dengan pendopo biasanya menggunakan seketsel, sementara untuk membatasi dengan omah njero biasanya menggunakan gebyok.

Emperan, yang terletak diantara pringgitan dan omah njero dan berfungsi sebagai penghubung diantara kedua ruangan tersebut. Lebar emperan hanya sekitar 2 meter saja sehingga bisa dikatakan sebagai teras. Ruangan ini sering digunakan untuk bersantai dan menerima tamu, sehingga pada ruangan ini juga terdapat meja dan kursi.

Omah Njero, yang sering dikenal juga dengan istilah dalem ageng, omah ndalem atau omah mburi. Ruangan ini menjadi tempat bersantai dan berkumpulnya keluarga dengan sifat yang lebih privasi, sehingga tidak semua tamu boleh memasukinya.

Senthong, atau kamar yang jumlahnya disesuaikan dengan banyaknya anggota keluarga yang tinggal di rumah joglo. Senthong terdiri dari senthong kiwo, senthong tengah, dan senthong tengen. Senthong kiwo dan senthong tengen berfungsi sebagai tempat tidur anggota keluarga, sementara senthong tengah dianggap sebagai ruangan yang sakral menurut kepercayaan Jawa. Biasanya digunakan untuk menyimpan benda pusaka, dll.

Gandok, yang letaknya berada di samping dan menempel pada bangunan bagian belakang. Gandok terbagi menjadi dua, yaitu gandok kiwo dan gandok tengen. Ruangan ini berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan perabotan maupun bahan makanan, sebagai ruang makan, dan kadangkala berfungsi sebagai dapur.


Sumber : Nyero id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *