Nama Rumah Adat Sumatera Utara Beserta Gambar & Penjelasannya

Nyero.ID – Selain menjadi kekayaan dan warisan budaya, rumah adat juga sekaligus sebagai identitas setiap suku atau etnis yang mendiami suatu wilayah. Seperti pada rumah adat Sumatera Utara yang akan dibahas pada ulasan berikut ini.

Seperti yang telah diketahui bersama, di Sumatera Utara terdapat keanekaragaman suku dan budaya yang berpengaruh pada bentuk dan gaya arsitektur rumah adatnya. Setidaknya ada lebih dari 10 rumah adat di Sumatera Utara yang menjadi kekayaan budaya daerah dan bisa menjadi sarana untuk wisata sejarah dan budaya yang mengedukasi.

Rumah Adat Batak Toba

Berbentuk rumah panggung dengan tiang penyangga dan kolong rumah yang difungsikan untuk memelihara hewan ternak, rumah adat ini memiliki beberapa ruangan sesuai dengan fungsinya. Yaitu Jabu Bona, Jabu Soding, Jabu Suhat, Jabu Tampar Piring, dan Jabu Tonga-tonga. Menariknya lagi pembagian ruangan di rumah adat ini tanpa menggunakan sekat dan hanya berupa batas imajiner.

Selain itu, pembagian rumah adat Batak Toba juga dibedakan menjadi dua, yaitu rumah yang digunakan sebagai tempat tinggal keluarga yang disebut dengan istilah “ruma” dan rumah sebagai tempat penyimpanan atau lumbung yang dikenal dengan istilah “sopo”.

Rumah Adat Karo

Rumah adat dengan gaya arsitektur yang cukup megah ini bisa menampung delapan keluarga dan proses pembangunannya diatur oleh adat Karo, termasuk dalam penempatan keluarga di dalam rumah.

Dikenal dengan istilah Siwaluh Jabu, rumah adat Karo terbagi dalam beberapa ruangan sesuai dengan fungsi dan kegunaannya. Diantaranya adalah Jabu bena kayu yang berada di depan sebelah kiri dan diperuntukkan bagi pendiri kampung atau pemimpin rumah tersebut.

Jabu ujung kayu yang diperuntukkan bagi anak Beru Toa atau yang bertugas memecahkan masalah. Jabu sedapur ujung kayu, jabu lepan bena kayu, jabu sedapur lepan bena kayu, jabu lepan ujung kayu, dan jabu sedapur lepan ujung kayu.

Rumah Adat Pakpak

Berada di Kabupaten Pakpak Bharat, Sumatera Utara, rumah adat ini dikenal juga dengan nama Jerro. Seperti rumah adat lainnya di Sumatera Utara, rumah adat Suku Pakpak ini memiliki bentuk rumah panggung dengan beberapa tiang panyangga yang kuat.

Penempatan dua tiang penyangga di bagian depan, bentuk atap yang melengkung, dan tanduk kerbau pada bangunan ini memiliki makna filosofi yang mendalam.

Rumah Adat Melayu

Rumah adat Melayu Deli di Sumatera Utara memiliki design yang unik dengan gaya arsitektur yang khas, identik dengan warna kuning dan hijau. Bentuk rumah panggung terdiri dari lantai dan dinding yang terbuat dari papan kayu dan atap dari ijuk.

Rumah Adat Mandailing

Rumah adat Mandailing dikenal dengan sebutan Bagas Godang yang memiliki makna Rumah Besar. Rumah ini memiliki gaya arsitektur yang khas dengan bentuk empat persegi panjang dengan penyangga kayu berjumlah ganjil.

Biasanya dalam satu kompleks Bagas Godang terdapat Sopo Godang yang difungsikan sebagai tempat bermusyawarah, Sopo Jago sebagai tempat menjaga keamanan kampung, Sopo Gondang sebagai tempat untuk menyimpan Gorgang Sambilan, dan Sopo Eme atau Hopuk sebagai tempat menyimpan padi atau lumbung.

Dimana keseluruhannya menghadap ke Alaman Bolak atau halaman yang luas dan datar, sebagai tempat untuk prosesi adat dan berkumpulnya masyarakat.

Rumah Adat Nias

Berbentuk rumah panggung, rumah adat Nias dikenal dengan sebutan Omo Hada yang didiami oleh masyarakat pada umumnya, dan Omo Sebua yang merupakan kediaman kepala desa, kepala negeri atau bangsawan. Omo Sebua memiliki ciri khas atap berbentuk pelana di bagian depan dan belakang dengan ketinggian mencapai 16 meter.

Rumah adat ini memiliki tiang penyangga yang tinggi dan besar, tidak berpondasi yang tertanam di dalam tanah, dengan sambungan kerangka rumah tanpa paku. Rumah ini terbagi dalam dua bagian yaitu bagian depan untuk menerima tamu menginap dan bagian belakang yang ditempati oleh keluarga pemilik rumah.

Rumah Adat Nias Utara

Rumah adat ini memiliki ciri khas bentuk atap yang lebar dengan kisi-kisi jendela yang besar sehingga kondisi rumah lebih terang dengan sirkulasi udara yang cukup baik. Rumah utama terbagi menjadi tiga bagian, yaitu ruang tamu dan kamar tidur. Sementara untuk dapur dan kamar mandi terletak di bangunan terpisah atau di belakang rumah.

Seperti rumah panggung lainnya rumah adat ini juga memiliki pilar-pilar penyangga dari kayu yang kuat. Hanya saja pada rumah adat ini pilar penyangga tidak didirikan di atas tanah melainkan di atas pondasi batu.

Rumah Adat Nias Tengah

Bentuk bangunan rumah adat ini merupakan perpaduan antara Nias Utara dan Nias Selatan dengan ciri khas tersendiri. Yaitu memiliki dekorasi dan hiasan yang unik pada bangunannya, salah satunya adalah ornamen berbentuk binatang yang dimaksudkan sebagai simbol perlindungan bagi penghuni rumah.

Rumah Adat Nias Selatan

Rumah adat Suku Nias Selatan memiliki gaya arsitektur yang cukup rumit dengan penambahan ornamen-ornamen megalitikum yang unik. Rumah adat ini berada di sebuah kompleks pemukiman yang dibuat menjulang dengan halaman yang luas.

Pada bagian depan terdapat dinding batu yang disebut dengan istilah Oli Batu sebagai simbol kedudukan pemilik rumah.

Pembagian ruangan dalam rumah terdiri dari Tawalo yang berfungsi sebagai ruangan untuk bermusyawarah, ruang tamu, dan tempat tidur para jejaka. Biasanya pada ruangan ini dihiasi oleh ornamen-ornamen unik berupa ukiran, seperti ukiran kera yang melambangkan kejantanan serta ukiran perahu perang.

Di belakang Tawalo terdapat Forema yang berfungsi sebagai ruang keluarga, tempat untuk menerima tamu wanita, dan ruang makan untuk tamu. Di ruangan ini juga tersedia dapur dan ruang tidur.

Rumah Adat Angkola

Rumah adat Angkola memiliki ciri khas penggunaan warna hitam yang dominan dengan atap ijuk dan penggunaan papan kayu untuk dinding dan lantainya. Rumah adat ini berbentuk rumah panggung dengan tiang penyangga dari kayu yang kokoh dan kuat.

Rumah Adat Simalungun

Meskipun dikenal dengan nama Rumah Bolon seperti pada rumah adat Batak Toba, namun rumah adat Simalungun memiliki gaya arsitektur yang berbeda. Design bangunan rumah adat Simalungun cukup unik dengan bentuk rumah panggung yang memiliki kolong rumah cukup tinggi, yaitu sekitar 2 meter. Selain sebagai tempat untuk memelihara hewan ternak, kolong rumah juga difungsikan sebagai gudang.

Lantai dan dinding rumah adat ini terbuat dari papan kayu, sementara untuk atapnya terbuat dari ijuk atau daun rumbia. Penggunaan tiang-tiang besar dari kayu yang kuat membuat bangunan rumah adat kokoh berdiri. Bahkan bisa bertahan hingga lebih dari setengah abad meskipun dalam pembuatannya tidak menggunakan paku.

Salah satu ciri khas Rumah Bolon Simalungun adalah penggunaan kaki bangunan yang terbuat dari kayu utuh atau gelondongan dengan susunan menyilang dari sudut ke sudut. Sementara bentuk atap pada anjungan rumah diberi limasan berbentuk kepala kerbau lengkap dengan tanduk kerbaunya.

Kerbau dalam kebudayaan Suku Batak Simalungun merupakan simbol kesabaran, keberanian, kebenaran, dan sebagai penolak bala atau penangkal roh jahat.


Sumber : Nyero id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *