Nama Rumah Adat Kalimantan Barat Beserta Gambar & Penjelasannya!

Nyero.ID – Dikenal sebagai salah satu daerah dengan julukan “Provinsi Seribu Sungai”, Kalimantan Barat memiliki kekayaan adat dan budaya yang cukup beragam. Beberapa jenis tarian seperti Tari Pingan, Tari Pedang, Tari Janggon, Tari Monong, dan tarian lainnya menjadi bukti kekuatan adat istiadat Suku Dayak yang masih tetap dilestarikan hingga saat ini.

Tarian dari Suku Dayak ini memiliki makna tersendiri dalam kehidupan masyarakat Dayak, dimana beberapa jenis tarian menjadi simbol dari sebuah ritual adat. Demikian juga dengan alat musik tradisional yang mengiringi tarian, semuanya menyatu sehingga tercipta suasana yang begitu harmonis.

Selain tarian, musik tradsional, kuliner dan pakaian adatnya yang khas, Kalimantan Barat juga memiliki bangunan rumah adat yang kaya akan makna filosofi. Jenis rumah adat yang terkenal di Kalimantan Barat adalah Rumah Panjang, yang bentuknya cukup identik dengan rumah panjang Kalimantan Tengah.

Letak kedua wilayah tersebut memang berdekatan, dan menariknya lagi kedua rumah adat di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah sama-sama dikenal dengan sebutan Rumah Betang.

Rumah Panjang/Rumah Betang Radakng Kalimantan Barat

Sesuai dengan namanya, rumah adat di Kalimantan Barat ini memiliki bangunan yang cukup panjang yaitu kurang lebih 138 meter dan lebar 6-7 meter dengan jumlah ruangan sekitar 50. Konstruksi bangunannya terbuat dari kayu dengan ketinggian sekitar 5-8 meter. Adanya tiang penyangga pada rumah ini berfungsi untuk menghindari serangan binatang buas dan bencana banjir.

Dengan bangunan yang begitu luas dan jumlah ruangan yang banyak, Rumah Panjang di Kalimantan Barat biasanya dihuni oleh beberapa keluarga. Selain untuk tempat tinggal, rumah adat ini juga digunakan sebagai tempat untuk melaksanakan berbagaik kegiatan kemasyarakatan, seperti pertemuan hingga upacara adat.

Rumah adat dengan bangunan super luas ini memang dirancang khusus untuk bisa menampung ratusan orang. Bangunan ini juga dilengkapi dengan halaman yang luas sehingga bisa digunakan untuk melaksanakan berbagai macam upacara adat. Rumah Radakng sendiri merupakan sebutan untuk rumah panjang Suku Dayak Kanayatn yang ada di Provinsi Kalimantan Barat.

Rumah adat ini bahkan mampu memecahkan rekor MURI sebagai rumah adat terpanjang di Indonesia, dan bahkan disebut-sebut sebagai rumah adat terbesar di dunia.

Keberadaan Burung Enggang Gading yang menjadi simbol kekuatan dan kegagahan bagi Suku Dayak menjadi daya tarik tersendiri, demikian juga dengan enam tiang besar yang merupakan salah satu ciri khas dari rumah adat ini. Hiasan dan ornamen ukiran pada rumah adat ini bukan hanya berfungsi memperindah bangunan rumah tetapi juga memiliki makna filosofi di dalamnya.

Selain itu, jumlah tangga atau hejot pada rumah adat ini harus berjumlah ganjil. Biasanya terdapat 3 anak tangga pada bagian tengah rumah, di ujung kiri dan ujung kanan. Tangga ini menuju ke badan rumah bagian atas yang terbuat dari kayu ulin. Jenis kayu ini merupakan kayu khas Kalimantan yang terkenal kuat dan tidak mudah lapuk. Sementara untuk bagian atap terbuat dari ijuk atau genting.

Bangunan rumah adat ini terbagi menjadi dua, yaitu bagian depan dan bagian belakang. Pada bagian depan biasanya terdapat sebuah bale yang difungsikan sebagai tempat untuk menerima tamu. Sedangkan pada bagian dalam terdapat banyak ruangan yang disekat dan biasanya ditempati oleh beberapa keluarga.

Berbeda dengan kondisi saat ini, kehidupan masyarakat Daya di masa lampau biasanya bersifat komunal sehingga mereka tinggal dan hidup bersama-sama dalam satu rumah besar. Bangunan rumah adat ini juga menjadi simbol kerukunan hidup dengan budaya gotong royong yang begitu kental.

Biasanya Rumah Panjang dilengkapi dengan sebuah ruangan yang berfungsi seperti aula. Ruangan ini digunakan sebagai tempat pertemuan dan berbagai aktivitas lainnya seperti menganyam, menyulam, berkumpul dll.

Adapun pada bagian belakang biasanya terdapat sebuah ruangan yang digunakan untuk menyimpan alat pertanian. Sementara kandang untuk hewan ternak dibuat menyatu dengan rumah, karena hewan ternak dianggap sebagai harta kekayaan bagi keluarga.

Secara garis besar, Rumah Panjang di Kalimantan Barat terbagi menjadi 4 bagian utama, yaitu:

Pante yang terletak pada bagian depan dan difungsikan sebagai teras rumah. Ruangan ini biasanya digunakan penghuni rumah untuk bersantai pada pagi atau sore hari.

Samik yang merupakan ruang tamu dan sekaligus tempat berkumpul penghuni rumah ketika ada perkara adat yang harus dimusyawarahkan. Pada ruangan ini terdapat meja atau pane yang digunakan untuk duduk dan sekaligus sebagai tempat tidur bagi tamu yang menginap.

Bilik yang merupakan kamar tidur bagi penghuni rumah. Ruangan ini memiliki ukuran sekitar 6×6 meter dan jumlahnya tergantung dari banyaknya keluarga yang tinggal di rumah tersebut. Biasanya dalam satu bangunan rumah terdapat sekitar 24 bilik.

Uakng Mik yang letaknya berada di belakang rumah. Ruangan ini berfungsi sebagai dapur yang digunakan penghuni rumah untuk memasak makanan. Biasanya kaum wanita akan memasak bersama-sama dan kemudian dimakan bersama-sama seluruh anggota keluarga.

Proses pembangunan rumah adat ini pun tidak boleh sembarangan karena harus memenuhi beberapa persyaratan. Diantaranya hulu harus searah dengan matahari terbit, sementara hilir searah dengan matahari terbenam. Ketentuan ini merupakan simbol dari usaha dan kerja keras yang dimulai dari sejak matahari terbit hingga matahari terbenam.

Meskipun keberadaan rumah adat ini cukup sulit untuk ditemui namun masih ada bangunan Rumah Betang Radakng asli yang bisa dilihat, yaitu di Dusun Saham, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.

Rumah Adat Baluk

Jenis rumah adat ini merupakan bangunan rumah bagi Suku Dayak Bidayuh yang masih bisa ditemukan di Dusun Sebujit, Desa Hli Buei, Kecamatan Siding, Kalimantan Barat. Rumah adat ini biasanya difungsikan sebagai tempat untuk melaksanakan acara ritual adat tahunan nibak’ng atau nyobeng.

Rumah adat ini memiliki bentuk yang unik dan berbeda dari jenis rumah adat lainnya, dengan ciri khas berbentuk bundar dengan diameter dan ketinggian sekitar 10 meter.
Bangunan ini berada di ketinggian sekitar 12 meter dan ditopang dengan 20 tiang kayu sebagai penyangga. Sementara satu batang tiang difungsikan sebagai tangga yang berbentuk seperti titian.

Ketinggian bangunan pada rumah adat ini melambangkan kedudukan atau tempat Kamang Triyuh yang harus dihormati dalam kepercayaan masyarakat Dayak.

Rumah Adat Baluk juga digunakan Suku Dayak sebagai tempat untuk menyimpan tengkorak yang dianggap sebagai benda pusaka peninggalan nenek moyang yang diwariskan secara turun temurun.

Rumah Adat Melayu

Rumah Adat Melayu berada di Kompleks Perkampungan Budaya dan menjadi simbol kebudayaan Melayu di Kalimantan Barat. Rumah adat ini memiliki gaya arsitektur yang khas dengan model atap yang terlihat menyerupai bentuk atap bangunan Jawa.

Sementara bentuk atap segitiga dengan tinggi sekitar 30 derajat dimaksudkan agar sirkulasi udara berlangsung dengan baik sehingga udara panas tidak terperangkap di dalam ruangan.

Rumah dengan gaya arsitektur Melayu biasanya identik dengan warna kuning, yang dalam hal ini merupakan simbol kejayaan dan kemakmuran masyarakat Melayu.


Sumber : Nyero id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *