Nama Rumah Adat Betawi Beserta Gambar & Penjelasannya

Nyero.ID – Suku Betawi dikenal memiliki ciri tersendiri dengan dialeknya yang khas. Dalam bidang kesenian daerah, Betawi terkenal dengan Gambang Kromongnya yang merupakan perpaduan antara unsur musik Tionghoa dengan sentuhan Rebana yang merupakan tradisi musik Arab.
Selain itu, ada juga kesenian Keroncong, Tanjidor, Lenong, Tarian Topeng Betawi, Ondel-ondel, Yapong, dll yang menambah khasanah kekayaan budaya bangsa.

Berbicara tentang Betawi tentu tidak bisa dilepaskan dari kisah cerita Si Pitung, Si Jampang, dan Nyai Dasima yang sangat meleganda. Selain kesenian dan cerita rakyat, Betawi juga memiliki bentuk rumah adat yang khas.

Pada dasarnya Suku Betawi memiliki 4 jenis rumah adat, yaitu Rumah Kebaya, Rumah Joglo, Rumah Gudang, dan Rumah Panggung Betawi. Berikut ini adalah penjelasan dari masing-masing rumah adat Betawi.

Rumah Kebaya

Meskipun ada beberapa jenis rumah adat Betawi, namun yang tercatat resmi sebagai rumah adat Betawi adalah Rumah Kebaya. Pada zaman dahulu, jenis rumah ini umumnya dimiliki oleh mereka yang termasuk golongan orang terpandang.

Pada rumah adat ini atapnya terbuat dari genteng tanah liat namun ada juga yang terbuat dari bahan atep atau anyaman daun kirai. Atap rumah berbentuk seperti pelana yang dilipat atau seperti lipatan kebaya jika dilihat dari samping.

Variasi lainnya adalah berbentuk pelana kuda tetapi limpasan air terletak di bagian samping. Dan biasanya untuk bagian teras bentuk atapnya pelana dengan struktur yang lebih landai.
Sementara pada bagian dinding terbuat dari material kayu nangka atau kayu gowok dengan warna cat yang cerah, seperti kuning atau hijau.

Daun pintu pada Rumah Kebaya memiliki ukuran yang relatif besar dengan lubang ventilasi yang akan membuat sirkulasi udara di dalam rumah semakin bagus. Sedangkan untuk pondasinya menggunakan susunan batu kali dan pasangan batu bata sebagai landasan untuk dindingnya.

Ada beberapa makna filosofi dari bangunan Rumah Adat Kebaya, diantaranya adalah adanya teras yang luas dengan meja kursi sebagai simbol bahwa orang Betawi senantiasa terbuka dan menghargai siapapun yang datang.

Teras yang luas juga menggambarkan sifat kekeluargaan, keramahan dan spirit untuk selalu menjaga keharmonisan dengan tetangga dan sanak keluarga. Pada zaman dahulu keluarga Betawi memiliki kecenderungan untuk tinggal berdekatan, sehingga teras juga difungsikan sebagai tempat untuk berkumpul di waktu senggang.

Meskipun terdapat teras yang cukup luas, rumah adat ini juga dilengkapi dengan pagar yang mengelilingi rumah. Hal ini bisa diartikan bahwa keterbukaan orang Betawi juga memiliki batas, sehingga bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik berdasarkan nilai-nilai keagamaan.

Setiap ruangan yang ada di dalam Rumah Kebaya memiliki fungsi dan kegunaan yang berbeda seperti berikut ini:

Paseban, yaitu sebuah ruangan atau kamar yang digunakan untuk menerima tamu menginap. Ruangan ini juga digunakan sebagai tempat sholat jika kebetulan tidak ada tamu yang menginap.

Teras, yaitu ruangan luas sebelum pintu masuk yang dilengkapi dengan meja dan kursi untuk menerima tamu atau bersantai bareng keluarga. Lantai teras ini dikenal dengan istilah “gejogan” yang selalu dibersihkan untuk menerima tamu.

Pada zaman dahulu biasanya di bagian teras terdapat bale-bale yang terbuat dari bambu atau sering disebut dengan istilah tapang”, fungsinya sebagai tempat untuk bersantai.

Ruang Tidur yang berfungsi sebagai tempat istirahat. Biasanya di dalam Rumah Kebaya terdapat empat ruang tidur. Dimana ruangan yang paling besar ditempati oleh pemilik rumah.

Pangkeng, yaitu sebuah ruangan untuk bersantai bersama keluarga di malam hari sehingga hubungan antar anggota keluarga semakin hangat dan akrab.

Srondoyan, yaitu sebuah ruangan yang lazim disebut dengan dapur. Letaknya berada di bagian belakang dan biasanya jadi satu dengan ruang makan.

Rumah Joglo

Bentuk bangunan rumah ini hampir sama dengan rumah adat dari Jawa terutama pada bagian atap. Perbedaannya terletak pada tidak adanya penopang atau tiang penyangga seperti halnya rumah joglo di Jawa Tengah atau Yogyakarta. Rumah Joglo Betawi menggunakan struktur kuda-kuda biasa.

Berbentuk bujur sangkar, rumah adat ini terbagi menjadi tiga ruangan yaitu ruang depan, tengah, dan belakang. Biasanya jenis rumah ini dimiliki oleh golongan bangsawan atau priyayi.

Ruang depan atau serambi depan lazim digunakan untuk menerima tamu, sedangkan ruang tengah digunakan untuk berkumpul dengan keluarga, sebagai ruang makan dan ruang tidur. Sementara ruang belakang digunakan sebagai dapur dan juga kamar mandi.

Rumah Gudang

Rumah adat ini biasanya terletak di daerah terpencil dengan bentuk bangunan yang masih asli. Bentuknya persegi panjang dengan ukuran yang cukup bervariasi.

Rumah ini terinspirasi oleh beberapa bangunan gudang milik Portugis, hanya saja atapnya berbentuk seperti pelana kuda atau perisai dengan susunan kerangka kuda-kuda khas Betawi. Jika berbentuk perisai yang ditambah dengan elemen tertentu disebut dengan “jure”.

Sementara pada bagian depan rumah dilengkapi dengan atap miring yang dikenal dengan istilah markis atau topi. Fungsinya adalah sebagai penahan sinar matahari dan air hujan.

Rumah ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian depan yang berfungsi untuk menerima tamu dan bagian tengah yang digunakan untuk berkumpul bareng keluarga. Biasanya bagian belakang disatukan dengan bagian tengah.

Rumah Panggung Betawi

Sesuai dengan namanya, rumah adat Betawi ini memiliki bentuk bangunan seperti rumah panggung dengan tiang-tiang kayu sebagai penyangga. Jenis rumah adat ini banyak ditemui di daerah pesisir atau di daerah aliran sungai.

Pemilihan bentuk rumah panggung disesuaikan dengan lingkungannya sehingga diharapkan bisa menghindari luapan air sungai, air laut, atau binatang buas. Konsep rumah panggung dianggap paling aman untuk menghadapi lingkungan alam di sekitarnya.

Adapun tangga penghubung yang menghubungkan antara bangunan utama dengan daerah luar dikenal dengan istilah “balak suji” yang memiliki makna sebagai penghalang masuknya bala bencana ke dalam rumah dan sebagai media untuk penyucian diri sebelum masuk ke dalam rumah.

Proses pembangunan Rumah Panggung Betawi dimulai dengan pemilihan lokasi yang tepat, yaitu yang berdekatan atau membelakangi sumber air yang mengalir. Langkah selanjutnya adalah mengeraskan tanah dan membuat rangka rumah yang terdiri dari 20 tiang penyangga.

Struktur pondasi Rumah Panggung Betawi menggunakan umpak dengan susunan batu berbentuk persegi ukuran 20×25 cm. Umpak digunakan sebagai landasan tiang kayu yang berfungsi sebagai penahan beban.

Dengan adanya umpak maka tiang-tiang penyangga tidak mudah masuk ke dalam tanah. Biasanya kayu yang digunakan untuk pembuatan tiang berasal dari kayu jati, nangka, rambutan, dan kecapi.

Adapun landasan lantai rumah menggunakan bahan bambu yang dijajarkan, sementara dinding rumah terbuat dari papan kayu yang dijajarkan tanpa jarak. Untuk langit-langit rumahnya menggunakan anyaman bambu dan genteng merah sebagai atapnya.

Pemasangan daun pintu dibuat agak ke samping kanan atau kiri untuk menghindari hembusan angin agar tidak langsung masuk ke seluruh ruangan. Selain itu juga bertujuan agar tempat tidur dan dapur tidak terlihat oleh orang lain.


Sumber : Nyero id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *